Friday, November 19, 2010

Menata Ruang Kecil Agar Tidak Kaku

Ruang keluarga adalah ruang tamu informal yang biasanya diletakkan di dekat dapur. Berbagai aktivitas keluarga dapat ditampung di sana, antara lain menonton TV, bercakap-cakap, makan, dan bersantai. Seringkali, ruang keluarga memiliki hubungan dengan ruang luar seperti taman atau teras.” Inilah definisi yang tertera di Wikipedia.
Kalimat pertama pada definisi tadi menegaskan bahwa ruang keluarga adalah ruang yang mesti tampil informal, tidak kaku, dan terkesan santai. Namun bagi B. J. Susilo, seorang desainer interior, ruang keluarga bisa dibuat lebih formal tapi tetap bisa mengakomodir kegiatan anggota keluarga.
Kesan formal pada ruang keluarga, bisa diciptakan dari pilihan furniturnya, seperti contoh kasus di sini. Rangka, lengan, dan sandaran sofa dibuat dari kayu dengan garis-garis tegas. Dominasi kayu pada sofa memang bisa menjadikannya terlihat kaku. Karenanya, untuk menimbulkan kesan santai, para desainer memilih sofa yang seluruhnya dilapisi upholstery dari bahan lembut.
Di balik kesan kaku, ada keuntungan memakai furnitur dari kayu. Kayu tampak alami namun mudah dibentuk tipis, sehingga furnitur jadi tampak ramping, ringan, dan tidak membuat ruang terasa penuh.
Lengkap dan Nyaman
Ruang keluarga ini biasanya digunakan untuk mengobrol, membaca, dan menikmati teh di sore hari. Kegiatan menonton TV juga bisa dilakukan jika ruangan TV di atas tidak digunakan. Sang desainer berusaha untuk mengakomodir semua kegiatan itu, tentunya dengan tetap mengutamakan kenyamanan. “Sedikit formal bukan berarti tidak nyaman,” tukas Susilo. Untuk kegiatan mengobrol misalnya, sofa-sofa diletakkan dengan jarak yang tidak terlalu jauh sehingga suara yang dikeluarkan bisa didengar lawan bicara. Si pengguna bisa tetap duduk dengan tenang, dan tak mesti memajukan badan saat mengobrol. Jarak yang tidak terlalu jauh ini juga bisa menimbulkan interaksi yang lebih kuat di antara anggota keluarga.
Contoh lainnya adalah pada ketinggian dan lebar sofa. Dudukan sofa dibuat lebih lebar, dan kaki dibuat lebih pendek daripada sofa biasa. Menurutnya, dengan cara ini orang bisa duduk lebih santai dan nyaman. Kaki pun bisa dijulurkan ke depan atau nangkring di atas meja.
Menangkap View
Alexander Christoper (dalam buku The Timeless Way of Building) menulis, di dalam ruang keluarga atau ruang duduk, ada 2 hal yang membuat orang tetap pada tempatnya. Pertama adalah cahaya. Pada dasarnya, manusia punya keinginan dan kecenderungan untuk bergerak ke arah cahaya (photoprenic). Ini terbukti saat di dalam kegelapan manusia akan berusaha membuat lingkungannya terang.
Kedua adalah ia duduk di tempat yang nyaman. Nah, jika kedua hal ini terwujud, dijamin ia akan sangat nyaman berada di ruang keluarga dan enggan beranjak dari sana.
Hal tadi dipraktikkan oleh Susilo. Selain membuat sofa yang nyaman, ia membuat jendela untuk menangkap cahaya sebanyak-banyaknya dari luar. Jendela yang merangkap sebagai pintu ini juga bisa meloloskan pemandangan dari halaman belakang. Alhasil, ruangan terasa lebih luas, lebih terbuka, dan lebih nyaman. (LOKASI: THE GREEN, BUMI SERPONG DAMAI)
Sumber : metroaktual.com
Dapatkan info mengenai toko bahan bangunan, produk atap baja ringan dan lain-lain di ster1.karir.com/.

1 comment: