Thursday, November 18, 2010

Wisata Kota DIY Bukan Cuma Malioboro & Keraton

Potensi pariwisata Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) memang sudah tidak diragukan lagi. Kawasan Malioboro dan Keraton Ngayogyakarta hingga kini tetap masih jadi primadona. Ini dapat dilihat dari kunjungan wisatawan lokal maupun mancanegara yang terus mengalir mendatangi dua kawasan ini.
Selain dua tempat primadona ini, DIY ternyata juga memiliki 75 desa wisata yang tersebar di wilayah Kabupaten dan Kota, yang berpotensi dikembangkan menjadi barometer tumbuhnya perekonomian lokal yang semakin kuat.
Meski jumlahnya banyak, rupanya tidak sedikit dari keberadaan desa wisata itu hanya dikelola seadanya, tanpa mendapat sentuhan menajemen dan pengelolaan secara profesional.
Pada hal jika dimaksimalkan, DIY tidak lagi hanya mengandalkan pasar wisatawan kawasan Malioboro maupun Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat saja.
Harapannya potensi desa wisata yang menawarkan berbagai keanekaragaman wisata budaya lokal itu, bisa menjadi objek wisata alternatif, meski hingga kini belum bisa meraih pasar wisatawan sesuai yang diharapkan.
Melihat kondisi seperti itu, tampaknya mengharuskan Dinas Pariwisata Provinsi DIY perlu secepatnya mengatur sekaligus menerapkan standarisasi desa wisata tersebut.
Hal ini penting agar masing-masing desa wisata tidak mengklaim sebagai sebuah desa wisata, sebelum sarana dan prasarananya memenuhi standar.
Berikut ini beberapa tempat wisata budaya yang terdapat di Yogyakarta. Kampung Wisata Dipowinatan memang tergolong baru sejak diproklamirkan pada 4 November 2006 lalu.
Sepintas jika anda tidak memperhatikan dengan seksama kampung Dipowinatan, tampak sama seperti halnya kampug lainnya yang ada diperkotaan.
Namun jika anda masuk kampung Dipowinatan anggapan tersebut akan dapat anda tepis. Selain lingkungan yang tertata rapi dan juga bersih juga kehidupan sosiokultur masyarakat yang tetap menjaga tradisi menjadi daya tari tersendiri.
Konsep yang ditawarkan ialah Blusukan dan bertamu disebuah keluarga Jawa. Dimana wisatawan dalam bertamu harus menggunakan pakaian jawa dan juga wisatawan akan dijamu dengan kuliner khas Jawa.
Selain itu wisatawan juga disajikan wisata pengalaman batin yang dikemas dalam reality life,dimana wisatawan diajak menyelami sekaligus menikmati rutinitas kehidupan sehari-hari masyarakat setempat.
Contohnya jika ada warga yang menggelar pernikahan, wisatawan yang mendatangi tempat ini diajak jagong dengan cara Jawa dan juga memberikan sumbangan, bahkan juga wisatawan ikut rewang.
Selain itu juga ada paket Enjoy the Culture yaitu paket menikmati suasana dalam menikmati sebuah pentas kesenian dan berbagai atraksi yang penuh dengan nilai-nilai tradisi.
Makam Kota Gede
Kotagede adalah sebuah kawasan yang terletak di Yogyakarta bagian selatan. Kawasan ini dahulunya merupakan pusat pemerintahan Kerajaan Mataran Islam yang berkuasa pada pertengahan abad XVI M.
Selain melihat bangunan kuno, Kotagede juga dikenal sebagai tempat ziarah, khususnya di makam Panembahan Senapati, raja pertama Kerajaan Mataram Islam.
Di kompleks tersebut terdapat beberapa peninggalan seperti watu gatheng yang dipercaya sebagai permainan Raden Rangga, Masjid Besar Mataram yang dahulu merupakan rumah tempat tinggal Panembahan Senapati, benteng dan parit pertahanan.
Di Kotagede juga terdapat pasar tradisional dan pusat kerajinan perak yang cukup terkenal di Kota Yogyakarta.
Taman Sari
Taman sari terletak disebelah barat kawasan kraton masih dalam ruang lingkup benteng istana. nama Taman sari ada yang mengartikan sebagai sebuah taman yang sangat indah dan mempesona.
Tamansari merupakan istana air yang pada masanya berfungsi sebagai tempat rekreasi, pesanggrahan dan benteng pertahanan bagi Sultan, Istri Sultan dan segenap keluarga Keraton Yogyakarta.
hal ini tampak dari adanya segaran yang lengkap dengan perahunya, lorong-lorong bawah tanah, kolam pemandian dan tempat ganti pakaian, kolam latihan berenang, ruang untuk menari, dapur dan sebagainya.
Bangunan bersejarah ini mulai berdiri tahun pertengahan abad XVIII M dan dibangun pada masa pemerintahan Sultan Hamengku Buwana I.
Tempat yang juga dikenal dengan Water Castle ini saat ini masih banyak menyisakan kebesarannya. Konon secara simbolik taman sari dapat diartikan sebagai alat penghubung yang secara tidak langsung menghubungkan lahir dan batin antara sultan dan rakyatnya.
Di sekitar Tamansari ini juga terdapat Kampung Taman yang merupakan sentra kerajianan batik khususnya lukisan batik.
Nah, itu baru tiga lokasi wisata budaya yang terdapat di DIY. Bayangkan jika anda menyaksikan langsung wisata budaya lainnya yang terdapat di 75 desa wisata lainnya.
Untuk membuktikannya, segeralah merencanakan perjalanan wisata anda menuju DIY untuk menambah pengetahuan soal kebudayaan.(bbs/hms)
Sumber : matanews.com

Dapatkan info lain mengenai biro perjalanan wisata & paket wisata murah serta info lainnya di ster1.karir.com/.


No comments:

Post a Comment